Latarbelakang munculnya rasionalisme adalah keinginan untuk membebaskan diri dari segala pemikiran tradisional (scholastic), yang pernah diterima, tetapi ternyata tidak mampu mengenai hasil-hasil ilmu pengetahuan yang dihadapi. Pada tokoh aliran Rasionalisme diantaranya adalah Descartes (1596- 1650 M ), Spinoza (1632- 1677 M), Leibniz (1946-1716).

1. Rene Descartes ( 1596- 1650 M )

Decrates lahir pada tahun 1596 dan meninggal pada tahun 1650. bukunya yang terpenting dalam filsafat murni adalah Discours de la methode (1637) dan Meditations (1642). Kedua buku ini saling melengkapi satu sama lain. Di dalam kedua buku ininlah ia menuangkan metodenya yang terkenal itu, metode keraguan Descartes (Cartesian Doubt). Metode ini juga sering disebut Cogito Descartes atau metode Cogito saja.

Ia yang mendirikan aliran Rasionalisme berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercayai adalah akal. Ia tidak puas dengan filsafat scholastik karena dilihatnya sebagai saling bertentangan dan tidak ada kepastian. Adapun sebabnya karena tidak ada metode berpikir yang pasti.

Ia mengetahui bahwa tidak mudah meyakinkan tokoh-tokoh gereja bahwa dasar filsafat haruslah rasio (akal). Tokoh-tokoh gereja waktu itu tetap yakin bahwa dasar filsafat haruslah iman sebagaimana tersirat di dalam jargon Credo ut intelligam dan Anselmus itu. Untuk meyakinkan orang bahwadaras filsafat haruslah akal, ia menyusun argumentasi yang amat terkenal. Argumentasi itu tertuang di dalam metode Cagito tersebut.

Untuk menemukan basis yang kuat bagi filsafat, Descartes meragukan (terlebih dahulu) segala sesuatu yang dapat diragukan. Mula-mula ia mencoba semua yang dapat di indera, objek ynag sebenarnya tidak mungkin diragukan. Inilah langkah pertama metode Cogito tersebut. Dia meragukan adanya badannya sendiri. Keraguan itu menjadi mungkin karena pada pengalaman mimpi, halusinasi, ilusi, dan juga pada pengalaman dengan roh halus ad yang sebenarnya itu tidak jelas. Pada keempat keadaan itu seseorang dapat mengalami sesuatu seolah-olah seseorang dapat mengalami sesuatu seolah-olah dalam keadaan yang sesungguhnya. Oleh karena itu, Descartes berkata, “Aku dapat meragukan bahwa aku duduk disini dalam pakaian siap untuk pergi keluar; ya, aku dapat itu karena kadang-kadang aku bermimpi persis seperti itu, padahal aku ada di tempat tidur, sedang bermimpi.” Tidak ada batas yang tegas antara mimpi (sedang mimpi) dan jaga. Tatkala bermimpi, rasa-rasanya seperti bukan mimpi. Siapa yang dapat menjamin kejadian-kejadian waktu jaga (yang kita katakana sebagai jaga ini) sebagaimana kita alami adalah kejadian-kejadian yang sebenarnya, jadi bukan mimpi dan jaga; demikian yang di maksud oleh Descartes.

Pada langkah pertama ini Descartes dapat (berhasil) meragukan semua benda yang dapat di indera. Apakah sekarang yang dapat dipercaya, yang sungguh-sungguh ada? Menurut Descartes. Ada sesuatu yang muncul itu ialah gerak, jumlah, besaran (volume). Pada tahap kedua ini Descartes mengajak kita berpendapat bahwa yang tiga inilah yang lebih ada daripada benda-benda. Ketiga macam ini lebih meyakinkan adanya.

Betulkan yang ketiga ini benar-benar ada? Lalu Descartes mengujinya. Kemudian ia pun meragukannya. Yang ketiga macam itu adalah matematika. Kata Descartes, matematika dapat salah saya sering salah menjumlah (angka), salah mengukur (besaran), juga demikian pada gerak. Jadi, ilmu pasti pun dapat saya ragukan. Kalau begitu, apa sekarang yang pasti itu, yang dapat kujadikan dasar bagi filsafatku? Aku ingin yang pasti. Sampailah ia pada langkah yang ketiga.

Masih ada satu yang tidak dapat ku ragukan, demikian katanya, bahkan tidak ada satu setan yang licik pun dapat menggangguku, tak seorang spektis pun mampu meragukannya, yaitu saya sedang ragu. Jlas sekali, saya sedang ragu. Tidak dapat diragukan bahwa saya sedang ragu. Begitu distinct saya sedang ragu. Boleh saja badan saya ini saya ragukan adanya, hanya bayangan, misalny, atau hanya seperti dalam mimpi, tetapi mengenai “saya sedang ragu” benar-benar tidak dapat diragukan adanya.

Aku yang sedang ragu itu disebabkan oleh aku berpikir. Kalau begitu, aku berpikir pasti ada yang benar. Jika aku berpikir ada, berarti aku ada sebab yang berpikir itu aku.   

Sekarang Descartes telah menemukan dasar bagi filsafatnya, fondasi itu adalah aku yang berpikir. Pemikiranku itulah yang pantas dijadikan dasar filsafat karena aku yang berpikir itulah yang benar-benar ada, tidak diragukan, bukan kamu atau pikiranmu. Disini kelihatlah sifat subjektif, individualistis, humanis dalam filsafat Descartes. Sifat-sifat inilah, nantinya yang mendorong perkembangan filsafat pada abad modern.

Descartes mengemukakan metode baru yaitu metode keragu-raguan. Seakan- akan ia membuang segala kepastian, karena ragu-ragu itu suatu cara berpikir. Ia ragu- ragu bukan untuk ragu-ragu, melainkan untuk mencapai kepastian. Adapun sumber kebenaran adalah rasio. Hanya rasio sejarah yang dapat membawa orang kepada kebenaran. Rasio pulalah yang dapat memberi pemimpin dalam segala jalan pikiran. Adapun yang benar itu hanya tindakan budi yang terang-benderang, yang disebutnya ideas claires et distinctes. Karena rasio saja yang dianggap sebagai sumber kebenaran, maka aliran ini disebut Rasionalisme.

2. Spinoza (1632- 1677 M)

Spinoza dilahirkan pada tahun 1632 M. Nama aslinya adalah barulah Spinoza ia adalah seorang keturunan Yahudi di Amsterdam.

Menurut Solomon (1981:71), cara terbaik mempelajari metafisika modern ialah mempelajari karya-karya metafisika para filosof. Untuk pengantar mempelajarinya, Solomon menganjurkan mempelajari terlebih dahulu metafisika pada abad ke-17. filosofnya adalah Spinoza dan Leibniz.

Secara selintas permasalahan metafisika modern tetap sama dengan masalah metafisika pada masa pra Socrates, yaitu: beberapa substansi yang ada? Apa itu? Apa beda yang satu dengan yang lain? Bagaimana setiap substansi itu berinteraksi? Bagaimana substansi itu muncul? Apakah alam semesta mempunyai permulaan?

Spinoza mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Sebenarnya dapat diduga, ia pasti menggunakan cara yang sekurang-kurangnya sama rumitnya dengan cara yang digunakan oleh Descartes, orang yang memang diikutinya. Spinoza ternyata mengikuti pemikiran Descartes itu, dua tokoh terakhir ini juga menjadikan substansi sebagai tema pokok dalam metafisika, dan kedua juga mengikuti metode Descantes.

3. Leibniz (1946-1716)

Gottfried Eilhelm von Leibniz lahir pada tahun 1646 M dan meninggal pada tahun 1716 M. ia filosof Jerman, matematikawan, fisikawan, dan sejarawan. Lama menjadi pegawai pemerintahan, pembantu pejabat tinggi Negara. Waktu mudanya ahli piker Jerman ini mempelajari scholastik.

Ia kenal kemudian aliran- aliran filsafat modern dan mahir dalam ilmu. Ia menerima substansi Spinoza akan tetapi tidak menerima paham serba tuhannya (pantesme). Menurut Leibniz substansi itu memang mencantumkan segala dasar kesanggupannya, dari itu mengandung segala kesungguhan pula. Untuk menerangkan permacam- macam didunia ini diterima oleh Leibniz yang disebutnya monaden. Monaden ini semacam cermin yang membayangkan kesempurnaan yang satu itu dengan cara sendiri.


HIDUP TANPA KOREKSI ADALAH HIDUP YANG TAK LAYAK TUK DIJALANI
 

=> Do you also want a homepage for free? Then click here! <=